
Selamat datang di Desember 2025. Bulan di mana semua orang di Wall Street mendadak percaya pada Sinterklas. Narasi "Santa Claus Rally" didengungkan di mana-mana: beli saham sekarang, jual nanti saat harganya terbang tinggi karena "magic" akhir tahun.
Tapi, tunggu dulu. Sebelum kamu ikut-ikutan FOMO (Fear of Missing Out) dan membeli saham Nvidia di pucuk karena tetanggamu bilang begitu, mari kita bedah realitanya dengan pisau analisis intermarket yang tajam. Mike Zaccardi baru saja merilis pandangannya tentang "The Santa Setup", dan isinya mungkin tidak semanis kue jahe yang kamu bayangkan.
Desember ini bukan sekadar soal menunggu kado. Ini adalah medan perang intermarket di mana Dolar AS, Obligasi, dan Komoditas saling sikut untuk menentukan nasib portofoliomu. Apakah kita akan pesta pora atau justru kena prank akhir tahun? Mari kita lihat.
Desember dimulai dengan sedikit koreksi di pasar saham. Banyak yang panik. "Lho, katanya Santa Rally? Kok merah?"
Tenang, kawan. Menurut sejarah, dua minggu pertama Desember itu memang seringkali penuh dengan volatilitas yang bikin mual. Sinterklas (secara statistik) biasanya baru mulai bekerja keras membagikan kado cuan setelah tanggal 15 Desember, atau bahkan setelah Natal (resminya 24 Desember). Jadi, penurunan di awal bulan ini mungkin cuma "hangover" setelah pesta kenaikan 3,7% di minggu Thanksgiving kemarin.
Namun, jangan terlalu nyaman. Meskipun sejarah berpihak pada Bull (pembeli), struktur pasar saat ini punya beberapa retakan yang harus kamu waspadai.
Inilah kunci utama dari semua pergerakan aset bulan ini. Indeks Dolar AS (DXY) adalah "Wrecking Ball" bagi pasar global. Kalau Dolar kuat, aset lain (saham, emas, crypto) biasanya menderita. Kalau Dolar lemah, pesta dimulai.
Kabar baiknya? Dolar mulai terlihat lelah. Grafik teknikal menunjukkan Dolar gagal menembus resistensi kuat di 100.50 dan malah tergelincir di bawah garis tren naiknya sejak September. Ini adalah sinyal yang ditunggu-tunggu oleh para Bull.
Tapi (selalu ada tapinya)... Dolar yang lemah tidak otomatis berarti kamu harus "All-In" beli saham. Jika Dolar jatuh terlalu cepat dan menembus level 96, itu bisa jadi sinyal ketakutan resesi, bukan sinyal pertumbuhan. Pemenang sejati dari Dolar yang lemah bukanlah saham teknologi, melainkan Logam Mulia (Emas & Perak).
Emas sudah mencetak rekor baru, dan Perak? Dia sudah naik 100% tahun ini (double bagger!). Kalau Dolar terus melemah, aset-aset inilah yang bakal jadi bintang utama, bukan saham Apple-mu.
Pasar Obligasi adalah "orang dewasa" di ruangan yang penuh anak kecil (pasar saham). Dan saat ini, pasar obligasi sedang menatap tajam ke arah The Fed.
Data tenaga kerja minggu ini akan menjadi penentu segalanya. Jika data tenaga kerja keluar terlalu kuat, harapan pemangkasan suku bunga di bulan Desember bisa pupus. Dan jika itu terjadi, yield obligasi akan melonjak, dan Sinterklas mungkin batal datang.
Sebaliknya, jika data menunjukkan ekonomi yang "melambat tapi tidak hancur" (Goldilocks), The Fed punya alasan untuk memangkas bunga. Ini adalah kado Natal yang ditunggu semua orang.
Jangan lupakan faktor X: Politik. Mahkamah Agung AS mungkin akan memutuskan nasib tarif Presiden Trump di awal 2026. Jika tarif dibatalkan, yield obligasi bisa naik karena ekspektasi inflasi atau pertumbuhan berubah. Ini adalah bom waktu yang detaknya mulai terdengar.
Banyak investor ritel masih terjebak di masa lalu, memeluk saham Nvidia (NVDA) seolah-olah harganya akan naik selamanya. Padahal, rotasi sedang terjadi di depan mata.
Coba lihat rasio antara Google (GOOGL) dan Nvidia. Google mulai menyalip performa Nvidia dalam satu bulan terakhir (+17% vs -15%). Ini adalah tanda bahwa uang pintar mulai berpindah dari "pemenang lama" ke "pemenang baru" atau saham yang valuasinya lebih masuk akal.
Sektor AI bukan lagi monolit (satu kesatuan). Ada yang menang (seperti Oracle yang grafiknya mirip Cisco tahun 2000), dan ada yang mulai kehabisan napas. Jangan jadi orang terakhir yang memegang saham panas saat musik berhenti.
Satu hal yang menopang ekonomi AS (dan dunia) adalah nafsu belanja orang Amerika. Data awal menunjukkan penjualan liburan cukup kuat. Apakah mereka belanja karena senang atau "rage-spending" (belanja pelampiasan) karena stres? Pasar tidak peduli alasannya, yang penting duit berputar.
Selama konsumen masih gesek kartu kredit, resesi masih bisa ditunda. Ini memberikan lantai (support) bagi pasar saham untuk tidak jatuh terlalu dalam.
Indeks Volatilitas (VIX) sedang tidur nyenyak di bawah level 17. Sepi. Tenang. Terlalu tenang.
Ingat, VIX yang rendah adalah tanda complacency (rasa puas diri yang berbahaya). Secara musiman, wajar VIX turun di awal Desember. Tapi waspadalah di pertengahan bulan. Jika VIX tiba-tiba bangun dan melonjak ke angka 20-an, itu adalah sinyal bahwa "Grinch" datang untuk mencuri keuntunganmu. Jangan lengah hanya karena pasar terlihat damai.
Jadi, apa yang harus kamu lakukan? Apakah Desember akan membawa cuan?
Jawabannya: Kemungkinan besar YA, tapi jalannya tidak mulus.
Kita mungkin akan melihat sedikit drama dan koreksi di paruh pertama bulan ini. Gunakan kesempatan ini untuk "buy the dip" (beli saat turun) secara selektif, terutama di sektor yang diuntungkan oleh pelemahan Dolar (seperti Emas/Perak) atau saham teknologi yang belum overvalued.
Jangan mengejar harga (chase) di awal bulan. Biarkan pasar datang kepadamu. Sinterklas biasanya datang terlambat, jadi bersabarlah.
Membaca sinyal intermarket itu rumit. Salah baca sedikit, portofolio bisa merah merona di hari Natal. Kamu butuh panduan yang lebih real-time dan strategi yang adaptif.
Jangan biarkan volatilitas Desember memakan bonus akhir tahunmu.
👉 Follow akun social media INVEZTO sekarang juga! Dapatkan update harian tentang pergerakan Dolar, sinyal teknikal Emas, dan saham-saham pilihan yang siap reli bersama Sinterklas. Klik follow, dan pastikan kamu berada di pihak yang menang saat tahun 2026 tiba!
Multi-Level Grid Trading M...
Bitcoin: Asia Serves Toxic...
Pasar Forex Curang? ...
Gartley Pattern MQL5: The ...