Targeted Multi‑Close (TMC): Cara Cerdas Menutup Banyak Posisi Sekaligus (Tanpa Drama)
Masih menutup posisi satu-satu sambil berharap market nurut? Yuk, naik kelas. TMC membantu Anda menutup beberapa posisi secara terukur, tertarget, dan tanpa panik.
Apa Itu TMC (Targeted Multi‑Close)?
TMC adalah mekanisme manajemen trade yang secara otomatis menutup beberapa posisi berdasarkan target profit, waktu, atau kondisi pasar tertentu. Tujuannya sederhana: mengamankan profit dan mengendalikan eksposur portofolio tanpa harus jadi akrobat candlestick tiap menit.
Dengan TMC, Anda bisa menginstruksikan sistem untuk “pilah dan tutup” posisi yang sudah memenuhi kriteria—misalnya posisi tertua, posisi paling untung, atau kumpulan posisi yang secara rata‑rata sudah mencapai target—tanpa mengorbankan struktur strategi yang sedang berjalan.
Kenapa TMC Penting? (Selain Biar Anda Bisa Tidur Nyenyak)
- Skalabilitas: Mengelola 2–3 posisi mudah. Mengelola 20–30 posisi? Selamat datang di dunia kelelahan decision‑making. TMC meringankan beban itu.
- Manajemen Risiko Dinamis: Menutup sebagian posisi saat target tercapai menjaga ekuitas tetap sehat, sekaligus memberi ruang bernapas untuk sisa posisi yang “masih berjuang”.
- Disiplin Tanpa Baper: Keputusan keluar tidak lagi pakai emosi. Ada kriteria, ada eksekusi, selesai. Drama diserahkan ke sinetron saja.
- Optimasi Hasil: Dengan menutup subset posisi yang tepat, Anda bisa mengunci profit tanpa mematikan peluang lanjutan dari sisa posisi yang masih punya potensi.
Cara Kerja TMC dalam 1 Menit
Fungsi Inti (Versi No‑Nonsense)
- Auto‑close multi‑posisi berdasarkan profit, waktu tahan (holding time), atau kondisi pasar tertentu.
- Memprioritaskan posisi paling menguntungkan untuk ditutup lebih dulu—ambil yang matang dulu, sisakan yang masih hijau.
- Minimal jumlah posisi: eksekusi hanya terjadi jika kumpulan posisi telah memenuhi syarat jumlah tertentu (biar bukan “reaksi impulsif”).
- Logika keluar fleksibel: bisa berdasarkan real‑time profit, average profit sekumpulan posisi, atau durasi tahan yang sudah melewati ambang.
- Filter kustom: kelompokkan berdasarkan simbol, strategi, atau “bucket” tertentu sehingga close yang terjadi relevan terhadap konteks strategi yang berjalan.
Contoh Realistis
Bayangkan Anda menjalankan grid di 26 pasangan mata uang. Anda set TMC memantau portofolio dan hanya aktif ketika sudah ada minimal 6 posisi terbuka. Ketika posisi tertua mencapai ±40 menit atau rata‑rata profit sekumpulan posisi sudah menyentuh, katakanlah, $5, TMC menutup subset posisi yang “paling masuk akal” untuk dikunci. Hasilnya: eksposur berkurang, profit disegel, dan ritme strategi tetap terjaga.
TMC Cocok untuk Siapa?
- Scalper yang butuh reaksi cepat mengunci profit kumpulan order.
- Swing trader yang menumpuk posisi bertahap lalu keluar parsial saat target tercapai.
- Portfolio/AI‑based yang menjalankan multi‑simbol atau multi‑strategi dan ingin layer “trade management” yang konsisten.
Intinya: jika Anda punya lebih dari beberapa posisi sekaligus dan ingin keluar dengan otak, bukan sekadar tutup mata dan klik “Close All”, TMC adalah sahabat baru Anda.
5 Skenario Pemakaian (Dengan Bumbu Sarkas Seperlunya)
- “Ambil yang Matang Dulu”: Saat 10 posisi terbuka dan 4 di antaranya sudah memenuhi profit rata‑rata tertentu, TMC menutup 4 itu. Sisanya? Biar mereka lanjut “berjuang”.
- “Yang Tertua Duluan”: Posisi tertua sering paling dekat target atau paling riskan. TMC bisa memprioritaskan mereka, sehingga antrian keluar terasa wajar, bukan liar.
- “Minimal Barisan”: Hanya eksekusi multi‑close jika, misalnya, ≥6 posisi terbuka. Tanpa barisan, tidak ada parade. Sederhana.
- “Kunci Saat Rata‑Rata Oke”: Bukannya nunggu semua posisi sempurna, TMC menutup subset ketika average profit sekumpulan posisi mencapai ambang (contoh: $5). Lebih realistis, lebih sering kejadian.
- “Jam Tayang Habis”: Jika durasi tahan > X menit, dan kondisi lain terpenuhi, TMC menutup sebagian agar ekuitas tidak tersandera oleh posisi “ngambek”.
Setup TMC di MT4/MT5: Langkah‑Langkah Waras
- Kelompokkan Posisi: Tentukan dulu “keluarga” posisi yang akan dikelola bersama (berdasarkan simbol, strategi, atau tag/order comment).
- Definisikan Kriteria:
- Ambang minimal posisi (mis. ≥ 6 posisi).
- Prioritas (profit tertinggi duluan? tertua duluan?).
- Ambang profit (real‑time PnL atau average PnL) dan/atau ambang waktu tahan.
- Atur Filter: Pastikan close hanya mempengaruhi grup yang Anda maksud, bukan “semua yang kelihatan”.
- Uji di Demo: Jalankan 3–7 hari agar Anda paham ritmenya—sebelum menyentuh akun real. Demo itu murah, ego yang mahal.
- Monitor & Kalibrasi: Cek logika close di kondisi market cepat, normal, dan sideways. Sesuaikan ambang agar tidak terlalu sensitif atau terlalu pasif.
Kerangka Logika (Pseudocode Santai)
1. Kumpulkan posisi sesuai filter (simbol/strategi).
2. Jika jumlah posisi < ambang minimal → batal.
3. Hitung metrik:
- PnL real‑time total dan/atau rata‑rata per posisi
- Umur posisi tertua
4. Evaluasi kondisi target:
- (PnL real‑time ≥ ambang) ATAU (average PnL ≥ ambang) ATAU (umur tertua ≥ ambang waktu)
5. Jika terpenuhi:
- Pilih subset posisi sesuai prioritas (profit tertinggi duluan / paling tua duluan)
- Eksekusi penutupan berjenjang (hindari slippage besar)
6. Catat eksekusi, perbarui status, lanjutkan pemantauan.
Catatan: eksekusi bertahap lebih ramah terhadap spread dan likuiditas, terutama saat menutup banyak posisi sekaligus.
Manajemen Risiko: Kunci Tetap Waras
- Ambang yang Masuk Akal: Target profit terlalu ambisius membuat TMC jarang “klik”. Terlalu kecil? Terlalu sering tutup, biaya transaksi membengkak.
- Partial vs. Full Close: TMC didesain untuk menutup subset (bukan selalu semua). Kombinasikan dengan SL/TP per posisi agar struktur risiko tetap solid.
- Perhatikan Spread & Slippage: Menutup banyak posisi sekaligus di sesi tipis likuiditas = mengundang spillage. Pakai batch kecil jika perlu.
- Korelasi: Mengelola grup dengan simbol berkorelasi mencegah “double exposure”. Kalau semua posisi satu arah dan satu tema, jangan kaget portofolio ikut berbaper ria.
- Jangan Over‑Automate: TMC itu “otak kiri” trade management. Tetap butuh “otak kanan” untuk konteks makro (news besar, event tak terduga).
Playbook Siap Pakai
1) Scalping Basket
Tujuan: kunci profit cepat dari kumpulan entry kecil.
Ide: set minimal 5 posisi terbuka; saat rata‑rata profit mencapai X pip atau $Y, TMC menutup 2–3 posisi paling untung. Siklus ulang saat sinyal berikutnya muncul.
2) Swing Layering
Tujuan: melindungi akumulasi swing dari pembalikan mendadak.
Ide: saat umur tertua > 10 jam atau average profit ≥ target mingguan, TMC menutup subset (mis. 30–40% posisi) dan membiarkan sisa posisi mengikuti tren.
3) Grid Risk Relief
Tujuan: mengurangi beban risiko grid saat volatilitas melonjak.
Ide: aktifkan TMC hanya jika ada ≥ 6 posisi. Jika PnL real‑time > ambang nyaman, close posisi dengan profit tertinggi lebih dulu untuk menurunkan eksposur total.
4) Multi‑Symbol AI Signals
Tujuan: konsistensi keluar pada portofolio sinyal AI lintas simbol.
Ide: grup berdasarkan “tema” (mis. USD‑centric). Saat average profit kelompok ≥ target, TMC menutup sebagian untuk mengunci hasil tema tersebut.
FAQ (Versi Jujur & Sedikit Menyenggol)
“TMC bisa bikin hasil jadi maksimal tiap hari, kan?”
Tidak. TMC membantu mengamankan profit dan mengelola eksposur, bukan menciptakan profit dari udara tipis.
“Lebih bagus tutup semua saja?”
Jarang sekali. Subset closing menjaga peluang lanjutan sekaligus menurunkan risiko. “Close All” sering setara dengan “Close Otak”.
“Kalau average profit belum kena, tunggu saja?”
Belum tentu. TMC memungkinkan kriteria alternatif seperti umur posisi tertua atau PnL real‑time. Fleksibilitas itu gunanya.
“Saya takut kelewat peluang kalau sering close.”
Rasa takut itu wajar, tapi profit yang sudah ada lebih nyata daripada “peluang imajiner”. Kuncinya: ambang yang realistis.
Checklist Cepat Sebelum Menyalakan TMC
- Sudah definisikan grup posisi (simbol/strategi) dengan jelas?
- Sudah tetapkan jumlah minimal posisi untuk memicu TMC?
- Sudah pilih prioritas (profit tertinggi dulu / tertua dulu)?
- Ambang average profit / real‑time profit sudah realistis?
- Ambang durasi tahan ditetapkan untuk mencegah posisi “nginep tanpa tujuan”?
- Sudah simulasi batch‑closing kecil untuk meminimalkan slippage?
- Sudah uji di demo beberapa hari di kondisi volatilitas berbeda?
Kesalahan Umum (Baca Ini Biar Tidak “Deja Vu”)
- Ambang Lebay: target profit ketinggian → TMC jarang aktif → Anda menyalahkan sistem, padahal ekspektasinya yang salah.
- Tidak Ada Filter: menutup posisi lintas strategi tanpa grup jelas = chaos. Gunakan filter kustom.
- Tutup Sekaligus: menutup 15 posisi di saat spread lebar adalah hobi mahal. Pilih subset dan eksekusi bertahap.
- Lupa Korelasi: portofolio yang semuanya satu tema = risiko yang terpusat. TMC bukan jimat anti‑korelasi.
- Tak Pernah Demo: berharap sempurna di live tanpa trial? Itu bukan percaya diri, itu nekad.
Kesimpulan: Biarkan TMC Mengunci Hasil, Anda Fokus pada Gambar Besar
TMC memecahkan satu problem klasik trading portofolio: kapan dan bagaimana menutup beberapa posisi secara cerdas. Dengan kriteria profit, waktu, dan filter yang fleksibel, Anda bisa mengurangi eksposur saat perlu, menutup yang matang lebih dulu, dan tetap menjaga peluang dari sisa posisi. Ini bukan tombol “kaya mendadak”; ini mekanisme disiplin yang membuat manajemen trade Anda terasa seperti kerja tim, bukan kerja paksa.
Atur ambang dengan realistis, gunakan filter yang tepat, uji di demo, lalu biarkan TMC bekerja. Ketika prosesnya rapi, hasilnya cenderung lebih konsisten—tanpa perlu jantung olahraga tiap kali harga goyang.
Mau insight manajemen trade yang waras dan bisa dipakai besok pagi?
Follow akun sosial media INVEZTO untuk tips praktis seputar multi‑close, risk control, dan playbook manajemen posisi yang tidak menggurui—tapi bikin keputusan Anda lebih tenang dan terukur.




