
Mari kita jujur sebentar. Alasan utama akun trading Anda merah merona (alias loss melulu) mungkin bukan karena broker Anda curang, bukan karena sinyal dari grup sebelah "zonk", dan bukan karena Elon Musk ngetwit sembarangan. Masalahnya mungkin ada di cermin.
Ya, masalahnya adalah ANDA.
Banyak trader yang memaksa diri menjadi seseorang yang bukan dirinya. Anda orangnya tidak sabaran, tapi sok-sokan mau jadi investor jangka panjang ala Warren Buffett. Atau sebaliknya, Anda orangnya panikan, tapi nekat jadi scalper di time frame 1 menit. Itu sama saja menyuruh ikan memanjat pohon. Hasilnya? Stres, frustrasi, dan tentu saja, margin call.
Dalam bukunya "Mechanical Trading Systems", Richard Weissman membagi trader ke dalam tiga profil psikologis utama. Mari kita bedah satu per satu dengan sedikit bumbu realita yang pedas, supaya Anda sadar di mana posisi Anda sebenarnya.
Ini adalah tipe trader yang punya motto hidup: "Biar lambat asal selamat, dan kalau sudah dapat, hajar sampai tuntas."
Trend followers tidak peduli dengan fluktuasi kecil harian. Mereka tidak mencoba menebak pucuk (top) atau lembah (bottom). Strategi mereka sederhana: Tunggu tren terbentuk, masuk, dan diam saja sampai tren berakhir. Mereka seringkali membeli di harga yang sudah tinggi (dengan harapan makin tinggi) atau menjual di harga rendah (dengan harapan makin anjlok).
Kedengarannya enak, kan? Tinggal ikut tren lalu kipas-kipas duit? Tunggu dulu.
Masalah terbesar menjadi Trend Follower adalah pasar itu galau. Pasar itu sideways (datar) sekitar 70-80% dari waktu. Artinya, sebagian besar waktu Anda akan dihabiskan untuk "kena prank" pasar. Anda masuk Buy karena harga naik, eh ternyata cuma koreksi, lalu turun lagi kena Stop Loss.
Untuk menjadi tipe ini, Anda butuh mental baja. Anda harus rela rugi berkali-kali (loss kecil-kecil) demi mendapatkan satu kemenangan besar yang menutup semua kerugian itu. Pertanyaannya: Apakah jantung Anda kuat melihat 5 kali loss beruntun sebelum akhirnya jackpot?
Kalau Trend Follower suka ikut arus, tipe ini justru suka melawan arus. Mereka adalah penganut teori bahwa "Apa yang naik, pasti akan turun" (dan sebaliknya).
Trader ini percaya bahwa harga akan selalu kembali ke rata-ratanya (mean). Mereka menggunakan indikator seperti RSI, Stochastic, atau Bollinger Bands untuk mencari kondisi Overbought (jenuh beli) atau Oversold (jenuh jual). Saat orang lain panik membeli karena harga terbang, mereka justru siap-siap menjual.
Strategi ini memberikan win rate (tingkat kemenangan) yang tinggi karena Anda mengambil profit kecil-kecil dari pergerakan harga yang bolak-balik dalam range. Enak, kan? Sering profit.
TAPI... risikonya juga ngeri. Bayangkan Anda Sell di pucuk, ternyata itu bukan pucuk, harga malah terbang ke bulan tanpa rem. Melawan tren yang kuat adalah cara tercepat untuk menghancurkan akun jika Anda tidak disiplin.
Trader tipe ini harus punya disiplin level dewa. Sekali Anda keras kepala menahan posisi loss (floating) dengan harapan harga akan balik, tamatlah riwayat Anda. Pasar bisa tetap irasional lebih lama daripada kemampuan margin Anda bertahan.
Ini adalah tipe yang paling banyak diidolakan para pemula karena terlihat "keren" di film-film. Padahal aslinya? Bikin botak dan ubanan lebih cepat.
Day Trader (termasuk scalper) adalah mereka yang keluar-masuk pasar dalam hitungan jam atau menit. Mereka tidak pernah menahan posisi sampai menginap. Bagi mereka, tidur nyenyak tanpa posisi terbuka adalah kenikmatan hakiki.
Weissman bilang, sistem mekanis sangat membantu tipe ini karena frekuensi tradingnya tinggi. Semakin banyak Anda trading, semakin banyak keputusan yang harus dibuat, dan semakin besar peluang emosi Anda mengacaukan segalanya. Jadi, mereka butuh aturan baku.
Jangan tertipu postingan Instagram. Day Trading itu kerja keras. Ini bukan "passive income", ini "hyper-active income". Anda harus menatap layar, memantau berita, dan bereaksi secepat kilat. Telat klik satu detik saja, profit bisa berubah jadi loss.
Anda butuh kelincahan mental (mental agility). Pasar berubah arah, Anda juga harus berubah pikiran detik itu juga. Tidak ada waktu untuk baper atau meratapi nasib.
Jadi, Anda termasuk "spesies" yang mana? Tidak ada jawaban benar atau salah, yang ada hanya jawaban jujur.
Pasar akan selalu menemukan cara untuk menguji mental Anda. Jika Anda seorang yang tidak sabaran tapi memaksakan diri jadi Trend Follower, Anda akan close posisi terlalu cepat sebelum profit maksimal. Jika Anda seorang yang lambat mengambil keputusan tapi nekat jadi Scalper, Anda akan dimakan hidup-hidup oleh volatilitas.
Berhentilah mengikuti gaya trading orang lain hanya karena mereka terlihat profit. Temukan gaya yang membuat Anda bisa tidur nyenyak di malam hari. Trading itu soal kenyamanan psikologis, bukan cuma soal teknikal.
Merasa tersesat di hutan belantara forex dan butuh kompas yang akurat? Jangan khawatir, Anda tidak sendirian. Kadang yang Anda butuhkan hanyalah komunitas yang waras dan asupan informasi yang tidak menyesatkan.
Ingin tips psikologi trading yang lebih mendalam, strategi yang sesuai kepribadian, dan update pasar harian yang "renyah"? Segera follow akun sosial media INVEZTO sekarang juga! Kami tidak menjanjikan Anda kaya dalam semalam, tapi kami berjanji akan menemani proses belajar Anda agar tidak tersesat di jalan yang salah. Klik follow, temukan gaya trading terbaikmu, dan mari kita cuan dengan gaya kita sendiri!
Multi-Level Grid Trading M...
Bitcoin: Asia Serves Toxic...
Pasar Forex Curang? ...
Gartley Pattern MQL5: The ...