Our professional Customer Supports waiting for you! Contact now
Everyday: 09:00am - 10:00pm
By Invezto in Trading Insight on 30 Aug, 2025

Jangan Jadi Exit Liquidity: Kebohongan Manis IPO

Jangan Jadi Exit Liquidity: Kebohongan Manis IPO

Jangan Jadi Exit Liquidity: Kebohongan Manis di Balik IPO

Summary nyinyir: Ingin tahu kenapa kamu sering 'ditinggal' saat IPO roket? Artikel ini membedah drama IPO—mulai dari underwriter yang iseng beli murah, sampai trader ritel yang asyik kebagian harga mahal. Jangan tutup telinga, ya.

Proses IPO: Bukan Garage Sale, tapi Drama Disetting

Bayangkan perusahaan mau IPO. Tentu nggak cuma lempar saham di pasar; ada proses bak drama. Pertama, mereka duduk manis dengan underwriter—analysts serius, bukan seleb TikTok—untuk menilai bisnis, menetapkan harga, dan… beli saham itu sendiri. Mereka main uang sungguhan. Lalu saham dijual ke dana besar. Baru setelah drama itu selesai, saham masuk bursa, dan kita yang masih makan nasi bungkus boleh klik “beli”.

Intinya: pasar publik itu tempat ritel datang terlambat setelah semuanya diatur rapi.

Retail Trader di IPO: Korban Ritel yang Salah Klik

Pada saat pembukaan (opening), trader ritel umumnya lompat cepat seolah lagi diskon. Harga sering 2–3 kali lipat dari harga IPO karena hype “ke bulan, bro!”. Tapi di seberang layar, ada profesional dan dana institusional yang barusan beli jauh lebih murah. Mereka justru senang bisa jual ke kamu—bukan karena mereka baik, tapi karena itu strategi pintar.

Contoh Sederhana: Figma IPO—Melejit dan Jatuh

Ambil contoh Figma (simbol FIG): IPO ditetapkan di USD 33, buka di USD 85, sempat melesat ke USD 142, kemudian turun ke sekitar USD 74. Jadi, momentum cepat, hype besar, dan siapa yang paling banyak ketiban untung? Mereka yang masuk lebih awal, tentu saja—kamu? Kalau masuk di puncak, siap-siap meredup.

Konsep Exit Liquidity: Kalau Kamu Sabar, Kamu Adalah Orang Terakhir

'Exit liquidity' bukan sekadar istilah keren di forum crypto. Di IPO, prinsipnya sama: kamu masuk di saat paling ramai, dan kamu jadi yang menyediakan likuiditas buat yang mau keluar lebih dulu. Jadi kalau kamu merasa dibodohi harga mahal—yah, mungkin saja kamu yang ditargetkan."

Meskipun sering disematkan ke aset gorengan atau ICO, realitasnya exit liquidity juga terjadi di IPO, private equity, dan transaksi besar lain—di mana momentum hype dan lock-up singkat bikin ritel kebagian bagian terburuk.

Mengapa Underwriter Rela Bikin IPO Murah?

Menurut riset ekonomi keuangan, underpricing (IPO rendah di awal) bukan kecelakaan—itu strategi oligopoli. Underwriter ingin agar klien beli saham, lalu ada analyst yang kasih rekomendasi bullish. Mereka akan menang banyak jika IPO diperlakukan sebagai paket layanan: layanan underwriting + research + reputasi. Jadi, bukan soal uang issuers, tapi soal layanan lengkap agar mereka tetap dipercaya klien besar.

Bagaimana Investor Ritel Lebih Dihargai Penikmat Drama

  1. Paham timing IPO? Terlalu cepat isinya invisible hands. Terlalu lambat, kamu cuma numpang hype.
  2. FOMO berdampak—“semua orang dibahas, kok gue enggak” dorong kamu beli tinggi.
  3. Kurang riset + harapan turbo = dosis exit liquidity yang sempurna.

Mentalitas yang Perlu Kamu Update

Daripada selalu mikir "gue harus dapat saham IPO, kuy!", mending pikir ulang: apakah kamu sudah siap jadi yang terakhir berdiri? Atau mau jadi bagian dari ceruk hype yang menguntungkan segelintir pihak?

Strategi Bijak: Jangan Cuma Ikut-Ikutan, Masuk dengan Paham

1) Tangguhkan Insting “GO NOW”

Beri waktu 1–2 hari setelah IPO. Biarkan hype mereda. Kalau benar-benar punya fundamental, harga akan stabil atau bahkan naik pelan.

2) Tahu Siapa Lawanmu

Kalau kamu baru nyemplung setelah underwriters sudah pegang untung, ya sabar, bukan kamu yang sekarang jadi kambing.

3) Rencanakan Exit, bukan Hype

Kalau kamu punya rencana keluar di rugi minimal atau profit realistis, kamu lebih siap ketimbang kebanyakan trader yang lolos kemudian panik.

Checklist Sebelum Kamu Ikut IPO

  • Apakah kamu tahu siapa yang sebenarnya membeli di bawah sebelum kamu?
  • Sudah siap mental untuk untung atau rugi—tanpa alasan “gue takut missing out”?
  • Punya timeline atau rencana trading yang jelas—atau masih mau lomba FOMO?

Kesimpulan: Masuk dengan Kepala, Bukan Kalengetan

IPO itu bukan tiket cepat kaya. Kalau kamu nggak mau jadi exit liquidity—alias korban hype—mulailah dengan disiplin: pahami proses, jangan buru-buru klik buy, dan selalu siapkan rencana keluar. Fokus ke nilai jangka panjang, bukan sensasi sesaat.

CTA bijak: Kalau kamu suka insight yang pedas, nyindir, tapi bikin kepala mikir—follow akun social media INVEZTO. Di sana, kamu bakal dapat konten trading real, edukatif, dan anti-gimmick yang bikin kamu move dari 'ikut-ikutan' ke trader yang benar-benar paham pasar.

You may also like

Related posts