
Mari kita jujur sebentar. Portofolio investasi kamu isinya apa? Saham teknologi Amerika yang valuasinya sudah tidak masuk akal? Crypto meme yang kamu beli karena FOMO? Atau mungkin uang tunai yang tergerus inflasi karena kamu terlalu takut untuk bergerak?
Kalau kamu mengangguk pelan, selamat. Kamu adalah bagian dari mayoritas investor ritel yang sedang berjalan santai menuju jurang finansial tanpa sadar. Tapi tenang, bukan salah kamu sepenuhnya. Media memang suka meninabobokan kita dengan narasi bahwa "tech stocks only go up" dan "Amerika adalah satu-satunya tempat aman".
Tapi coba dengar baik-baik: Peta permainan akan berubah total menjelang 2026.
Apa yang bekerja dengan baik dalam satu dekade terakhir—membeli saham pertumbuhan (growth stocks) dengan valuasi setinggi langit—kemungkinan besar akan menjadi strategi yang membuatmu menangis di pojokan. Kenapa? Karena mesin ekonomi dunia sedang bersiap untuk mode baru. Mode yang kotor, inflasioner, dan brutal bagi mereka yang tidak siap.
Artikel ini bukan sekadar ramalan cuaca. Ini adalah peta navigasi untuk menyelamatkan asetmu (dan mungkin menambahnya) ketika orang lain sibuk panik. Kita akan membedah analisis dari Alfonso Peccatiello tentang apa yang sebenarnya terjadi di dapur kebijakan moneter global, dan kenapa aset-aset yang selama ini kamu anggap "sampah" atau "kuno" justru akan menjadi penyelamat hidupmu.
Kamu ingat meme "Money Printer Go Brrr"? Siapkan dirimu, karena sekuelnya akan tayang di 2026 dengan anggaran produksi yang jauh lebih besar.
Banyak orang mengira era pencetakan uang (money printing) sudah selesai begitu Bank Sentral menaikkan suku bunga. "Oh, inflasi sudah turun, jadi semuanya aman," pikirmu naif. Salah besar. Yang terjadi sebenarnya adalah pergeseran dari siapa yang mencetak uang.
Jika dulu pencetakan uang didorong oleh utang sektor swasta atau kebijakan moneter murni (QE), sekarang pemicunya adalah kebijakan fiskal pemerintah yang "ugal-ugalan" dan belanja modal (Capex) gila-gilaan di sektor AI.
Coba lihat sekeliling. Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Korea Selatan—hampir semua negara maju sedang berlomba-lomba menggelontorkan stimulus fiskal. Defisit anggaran bukan lagi hal yang tabu; itu sudah jadi gaya hidup pemerintah modern.
Di tahun 2025 saja, defisit fiskal bersih dan leverage sektor swasta di seluruh dunia menambahkan sekitar $8,1 triliun uang baru ke dalam ekonomi global. Itu angka yang mengerikan sekaligus menakjubkan. Dan tebak? Di tahun 2026, keran ini tidak akan ditutup. Malah akan dibuka lebih lebar.
Jerman, misalnya, diproyeksikan akan melakukan penciptaan uang besar-besaran melalui stimulus fiskal mereka. Ini adalah "real-economy money"—uang yang langsung masuk ke sirkulasi ekonomi nyata, bukan cuma mengendap di cadangan bank. Efeknya? Inflasi yang lebih lengket dan pertumbuhan nominal yang tinggi.
Selain pemerintah, siapa lagi yang bakar duit? Perusahaan teknologi raksasa. Investasi di infrastruktur AI (Artificial Intelligence) bukan lagi sekadar proyek sampingan; ini adalah perlombaan senjata.
Capex (Capital Expenditure) untuk AI yang didanai utang berkontribusi signifikan terhadap penciptaan uang. Setiap kali perusahaan raksasa meminjam miliaran dolar untuk membangun data center atau membeli chip, mereka pada dasarnya sedang menyuntikkan likuiditas baru ke dalam sistem. Jadi, kombinasi antara pemerintah yang boros dan perusahaan yang ambisius adalah resep sempurna untuk banjir likuiditas di 2026.
Sekarang, pertanyaan sejuta dolarnya: "Apakah Bank Sentral akan menghentikan ini?"
Jawabannya singkat: Tidak.
Mereka mungkin akan pasang wajah serius di konferensi pers, bicara soal "hati-hati" dan "data dependent". Tapi realitanya? Mereka tidak akan melawan arus tsunami fiskal ini. Malah, data menunjukkan bahwa sikap kebijakan Bank Sentral di seluruh dunia cenderung netral atau bahkan longgar (loose).
Di sinilah banyak investor ritel tertipu. Ketika Bank Sentral bilang kebijakan mereka "netral", kamu pikir itu artinya seimbang. Padahal, dalam konteks makroekonomi saat ini, "netral" itu kode halus untuk "membiarkan inflasi lari sedikit".
Mari kita bedah logikanya. Jika inflasi inti (core inflation) berada di angka 2,5% - 3%, tapi target inflasi Bank Sentral adalah 2%, dan mereka menahan suku bunga di level yang dianggap "netral" (sekitar terminal rate), maka secara efektif mereka sedang menerapkan kebijakan longgar.
Kenapa? Karena mereka tidak secara aktif berusaha menekan inflasi kembali ke 2% dengan cara yang agresif. Mereka membiarkan ekonomi berjalan panas.
Di AS, Kanada, dan Jepang, suku bunga terminal (forward rate 2 tahun) berada di sekitar tingkat netral. Tapi, inflasi inti di negara-negara ini masih duduk manis jauh di atas target Bank Sentral.
Sebuah Bank Sentral yang menerapkan kebijakan moneter netral di saat inflasi inti jauh di atas target dan pencetakan uang terus berlangsung... itu namanya bukan Bank Sentral yang disiplin. Itu adalah Bank Sentral yang sangat longgar (very loose Central Bank).
Jadi, setup makro untuk 2026 adalah: Pertumbuhan nominal di atas 5%, Bank Sentral yang masa bodoh (netral/longgar), dan pencetakan uang global yang terus berlanjut. Kedengarannya seperti surga bagi aset tertentu, bukan?
Bagi kamu yang belum lahir atau masih main kelereng di tahun 2005, mari saya ceritakan dongeng masa lalu yang relevan. Periode 2005-2006 memiliki kemiripan yang menakutkan dengan apa yang kita hadapi sekarang.
Saat itu:
Sekarang:
Bahkan, setup hari ini terlihat lebih "sustainable" (baca: lebih susah mati) karena bahan bakarnya adalah defisit pemerintah, bukan utang swasta yang gampang meledak seperti krisis 2008.
Lantas, aset apa yang berjaya di era 2005-2006? Apakah saham teknologi? Bukan. Yang merajai pasar saat itu adalah Emerging Markets (Pasar Berkembang), Saham Value, dan Komoditas.
Inilah inti dari artikel ini. Setelah satu dekade dominasi total oleh saham teknologi AS (The Magnificent Seven, bla bla bla), portofolio institusi global sangat "underweight" atau kurang alokasi di tiga kelas aset ini. Mereka semua berdesak-desakan di pintu yang sama (saham teknologi), sementara ruangan sebelah (aset riil dan value) kosong melompong.
Ini adalah peluang emas buat kamu yang berani melawan arus (contrarian). Berikut adalah tiga aset yang wajib kamu pertimbangkan sebelum 2026 mengetuk pintu:
Saya tahu, saya tahu. Investasi di pasar berkembang (seperti Indonesia, Brazil, dll.) seringkali bikin sakit hati. Performanya lemot, mata uangnya fluktuatif. Tapi dengar dulu.
Valuasi pasar saham AS sudah sangat mahal. Sementara itu, valuasi di Emerging Markets masih sangat murah. Ketika uang global mencari tempat bertumbuh dengan harga masuk akal, dan ketika Dolar AS mulai kehilangan tenaga karena inflasi domestik mereka, arus modal akan mengalir deras ke Emerging Markets.
Di periode 2005-2006, EM adalah raja. Dan dengan pertumbuhan nominal global yang tinggi, negara-negara penghasil komoditas dan manufaktur di EM akan mendapatkan durian runtuh.
Lupakan saham yang P/E ratio-nya 100x. Di era inflasi 3%+ dan suku bunga 5%, investor akan mulai menuntut arus kas nyata (real cash flow) HARI INI, bukan janji manis keuntungan di tahun 2050.
Saham value—perusahaan yang punya bisnis jelas, untung stabil, dan valuasi murah—adalah tempat berlindung terbaik. Sektor seperti energi, industri, dan keuangan biasanya masuk kategori ini. Mereka membosankan? Mungkin. Tapi tahukah kamu apa yang tidak membosankan? Mendapatkan dividen dan apresiasi harga saat saham teknologi temanmu hancur lebur.
Ini adalah lindung nilai (hedging) pamungkas. Ketika pemerintah mencetak uang seperti tidak ada hari esok, nilai uang kertas (fiat) secara relatif akan turun. Apa yang harganya naik? Benda yang jumlahnya terbatas dan tidak bisa dicetak: Emas, Tembaga, Minyak, Perak.
Komoditas adalah aset yang paling "kurang dimiliki" (under-owned) oleh investor saat ini. Bayangkan, semua orang sibuk beli aset digital, sementara infrastruktur fisik dunia (yang butuh tembaga dan energi) sedang dibangun besar-besaran lewat stimulus fiskal.
Jika tesis "inflasi bertahan lama" ini benar, komoditas bukan sekadar pilihan, tapi kewajiban.
Siklus pasar itu nyata. Tidak ada aset yang naik selamanya, dan tidak ada aset yang turun selamanya. Kita sedang berada di titik infleksi di mana tongkat estafet kepemimpinan pasar akan berpindah dari "Growth & Tech" ke "Value, EM & Commodities".
Kamu punya dua pilihan sekarang:
Pilihan ada di tanganmu. Tapi ingat, di pasar modal, penyesalan selalu datang belakangan. Kalau datang di awal, namanya pendaftaran.
Dunia investasi itu kejam bagi yang buta arah, tapi sangat dermawan bagi yang punya peta. Jangan biarkan dirimu tersesat di narasi basi.
Analisis seperti ini baru permulaan. Kalau kamu mau terus mendapatkan insight tajam, sarkas, tapi daging semua seperti ini tanpa harus pusing baca berita ekonomi yang membosankan, kamu tahu harus kemana.
Jangan jadi investor ritel yang cuma ikut-ikutan. Jadilah Smart Money.
👉 Follow akun social media INVEZTO sekarang juga! Dapatkan update harian, bedah saham, dan strategi makro yang bikin portofolio kamu hijau royo-royo. Klik tombol follow, atau siap-siap portofoliomu merah merona!
Multi-Level Grid Trading M...
Bitcoin: Asia Serves Toxic...
Pasar Forex Curang? ...
Gartley Pattern MQL5: The ...